Menata Pendidikan Ideal
ala Buya Hamka
Judul : Memperbincangkan HAMKA
Penulis : Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag
Penerbit: Pernada Media Group
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : xx + 262 Halaman
Resensiator: Abdullah Khusairi
“Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada kesempurnaan sistem pendidikan dan pengajaran yang ditawarkannya.” (hal.136)
Hamka (1908-1981)
Tepat hari ini, satu abad sudah kelahiran seorang putra bangsa di sebuah tempat bernama Sungai Batang, Maninjau. Dia bagian dari barisan tokoh nasional yang berasal dari Ranahminang. Dialah Haji Abdul Karim bin Abdul Karim (Hamka) yang dikenal dengan Buya Hamka.
Buya Hamka, lahir 17 Februari 1908. Lahir dan besar di lingkungan yang agamis. Belajar otodidak dan menjadi sosok ulama, aktivis, jurnalis, politisi dan sastrawan. Pemikiran-pemikiran yang lahir dari sosok sederhana ini patut dipelajari oleh generasi hari ini, untuk menjemput marwah keilmuan darinya. Dan ada banyak buku yang ditulis oleh Hamka, mulai dari novel, cerpen, artikel dan yang fenomenal adalah tafsir al-Qur’an yang ditulis ketika ia dipenjara oleh rezim Soekarno.
Para cendikiawan setelah Hamka banyak mengapresiasikan dalam bentuk menuliskan kembali kembali, mengkritis, menggali maupun sekedar mengomentari bagaimana karya dan pemikiran-pemikiran Hamka dengan beragam kacamata keilmuan, pemikiran Hamka kembali “ditularkan” sebagai bentuk pengakuan yang utuh dari sosok Hamka.
Begitu pula buku terbaru dengan tajuk Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam ini. Penulis buku ini mencoba untuk mengapresisasikan sosok penting Hamka dalam bingkai pendidikan Islam. Pun penerbitannya, diselaraskan dengan Seabad Buya Hamka.
Buku ini mengandung pesan pemikiran Hamka tentang pendidikan Islam. Pentingnya pendidikan Islam bagi Hamka sangat terasa. Dimana, sepak terjang Hamka yang juga politisi, jurnalis, juga tidak menutup kesempatan untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan. Dan memang, Hamka memiliki pemikiran ideal dalam pendidikan Islam. Seperti ia memandang peserta didik, lembaga pendidikan formal, informal dan sosial. Sementara ia juga mengkritisi materi pendidikan, kurikulum yang dinamis dan sesuai dengan fitrah kebutuhan manusia, baik yang ilmu agama maupun ilmu-ilmu pengetahuan umum. Di samping itu, juga dipaparkan bagaimana metode yang dilakukan oleh para pendidik.
Sebagai bentuk pemikiran yang bersentuhan dengan persoalan politik, Hamka melihat hubungan ideal antara pemerintah dalam pendidikan. Dikatakannya, pemerintah tidak bisa mengintervensi pendidikan dalam segi material maupun kebijakan.
Titik sentral pemikiran Hamka dalam pendidikan Islam adalah fitrah pendidikan tidak saja pada penalaran semata, tetapi juga akhlakulkarimah. Salah satu bukti gagalnya pendidikan formal dalam menata moral dan etika terlihat dari munculnya kenakalan seperti tawuran. Pendidik mesti menjaga sikap dan memiliki syarat ; objektif, menjaga akhlak, menyampaikan seluruh ilmu, menghormati keberadaan peserta didik, memberi pengetahuan sesuai dengan kemampuan penerima dan perkembangan jiwa peserta didik.
Hamka dalam memaparkan persoalan pendidikan, selalu mencakup peran keluarga, pendidik dan lingkungan sosial. Peran ini dituntut harmonis. Tidak ada yang longgar antara satu dengan yang lain.
Ada tiga aspek penting yang mendasari pendidikan Islam bagi Hamka, yaitu: potensi (fitrah) peserta didik; jiwa (al-qalb), jasad (al-jism), dan akal (al-’aql). Aspek paling penting adalah kejiwaan. Dimana pendidikan akhlakulkarimah terletak di sini. Hamka menekankan, akhlakulkarimah pendidik memang harus terjaga sebelum memberikan pendidikan kepada peserta didik.
Agaknya, dengan fenomena pendidikan hari ini yang berwajah seram—bahkan berita terakhir ada guru main tangan kepada siswa (Padek, Kamis [14/2]—buku ini sepatutnya memang hadir untuk memberikan pencerahan tentang idealnya pendidikan Islam. Di samping itu, buku ini, bukan saja harus dibaca oleh aktivis pendidikan, tetapi juga pengambil kebijakan dunia pendidikan.[]




