PENGHINAAN BARAT TERHADAP ISLAM
Oleh : Faisal Zaini Dahlan
Sekretaris Eksekutif Center for Enlightenment of Society (CES) Padang
Kelakuan Politisi Partai Muda Anti Pendatang dan Partai Rakyat Denmark yang menggelar lomba kartun Nabi Muhammad SAW pada 6 Oktober lalu, menambah torehan hitam hubungan Muslim non-Muslim. Berbagai kritik hingga permintaan maaf Paus Benedictus atas kelakuan yang sama ketika Harian Denmark Jyllands-Posten memuat 12 karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai teroris beberapa waktu lalu, ternyata tidak menciutkan nyali masyarakat Kopenhagen. Pertanyaan yang muncul kemudian antara lain, apakah insiden ini bisa dijadikan indikator adanya krisis hierarkhis di kalangan Kristen sehingga pesan Sang Paus pun sudah tidak didengar lagi oleh umatnya. Memang beberapa dekade terakhir disinyalir terjadi krisis keimanan di kalangan masyarakat Barat. Bahkan di kalangan generasi muda muncul kebingungan teologis dan kehilangan pijakan spritual, hingga kemudian menggiring mereka kepada kehampaan reliji.
Pada tataran historis, tampaknya Islam menduduki papan teratas yang menuai pelecehan dibanding agama-agama besar lainnya, baik terkait personalitas Nabi maupun konsep ajaran. Menurut Umar Hasyim (1979:26), salah anggapan ini disebabkan 1) faktor ketidakmengertian terhadap Islam dan, 2) faktor kesengajaan melakukan distorsi demi kepentingan tertentu. Kedua faktor ini potensial kooperatif dan berjalin berkelindan sehingga sulit untuk memilah mana yang dominan. Kalangan yang memiliki agenda tertentu untuk merugikan umat Islam, sering menjungkirbalikkan kemuliaan konsep ajaran Islam. Sementara bagi kalangan yang memang sejak awal salah mengerti tentang Islam, referensi baru tersebut justru menambah catatan buruknya terhadap Islam.
Menurut Hasyim, pada Abad Pertengahan saja orang-orang Eropa memandang Nabi Muhammad SAW tidak lebih sebagai tokoh pengacau yang tidak beradab, penipu, penyesat umat manusia, serta musuh besar. Ia juga seorang nabi palsu, jahat, penuh dosa, serta pemecah belah. Referensi yang menghina dan menyembunyikan fakta-fakta ilmiah ini kemudian menjadi media propaganda sukses dalam mewariskan misunderstanding sekaligus kebencian terhadap Islam dan umatnya. Maka tidak heran jika di kemudian hari muncul kasus penghinaan yang semakin menyakitkan umat Islam dari waktu ke waktu. Pembunuhan karakter dengan berbagai persepsi keliru tentang Nabi Muhammad SAW, kebengisan dan kedunguan umat Islam, serta konsep-konsep ajaran yang dipersepsikan bertentangan dengan nilai-nilai universal, muncul dalam berbagai bentuk. Dalam upaya ini media cetak sering dijadikan alat propaganda. Hasyim mencatat beberapa penulis yang terlibat, seperti Priadeaux, Nicholas de Cuse, Vives, Rudolf de Ludheim, dll. Dalam studi orientalisme dikenal sejumlah penulis yang mendiskriditkan Islam dengan dalih-dalih ilmiah akademis.
Meski pada sebahagian kalangan masyarakat Barat telah terjadi pergeseran yang cukup berarti dalam mempersepsikan Islam, tetapi kasus-kasus seperti Denmark tampaknya akan tetap muncul. Misperception dan misunderstanding terhadap Islam yang sedemikian berurat berakar di kalangan masyarakat Barat, dipandang ampuh untuk dijadikan alat dalam rangka mencapai tujuan tertentu seperti kepentingan politik, ekonomi, dan sebagainya. Persekongkolan antara politik kepentingan di satu sisi dengan sentimen keagamaan dan isu rasial di sisi lain, sering mencuat ke permukaan. Dalam konteks inilah kiranya perlu dibangun konstruksi pemahaman baru yang genuine terhadap Islam di kalangan masyarakat Barat, baik melalui kajian-kajian akademis intelektual maupun pengalaman-pengalaman empiris dalam kontak, relasi, dan komunikasi dengan masyarakat Muslim sendiri.
Dengan demikian–paling tidak- tampaknya diperlukan dua upaya besar yang saling dukung dan beriringan untuk menghentikan skandal penghinaan terhadap Islam. Pertama, melakukan aksi protes massal dan diplomatik menuntut secara hukum dan kemanusiaan atas pelanggaran etika global universal yang menghina dan merendahkan pemeluk agama Islam. Secara global ethic, konferensi demi konferensi tingkat dunia telah digelar untuk menekan sikap diskriminatif dan perlakuan yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Sesuai dengan beberapa konvensi dunia tentang kemanusiaan, semestinya masyarakat Barat semakin menyadari perlunya sikap saling menghormati identitas masing-masing penghuni bumi, sehingga tercipta kedamaian dan ketenteraman bagi seluruh warga the global village.
Kedua, seiring dengan itu mesti dilakukan upaya-upaya damai, persuasif, dan edukatif untuk menjelaskan Islam yang sesungguhnya kepada masyarakat Barat yang nota bene telah mewarisi dan bahkan memperoleh indoktrinasi tentang Islam yang keliru dari generasi ke generasi. Upaya ini meski tidak mudah karena menyangkut merobah persepsi dan pengetahuan, tetapi mesti dilakukan baik melalui pemanfaatan media dan sumber informasi lainnya maupun publikasi ilmiah akademis terutama di kalangan masyarakat intelektual. Yang tidak kalah pentingnya adalah upaya membangun image positif untuk meruntuhkan image negatif terhadap Islam yang selama ini menghantui masyarakat Barat. Upaya ini lebih menyangkut penampakan lahiriah, sikap, karakter, respon, dan seterusnya, dalam konteks berada di tengah-tengah pergaulan masyarakat dunia. Dalam kontak, jalinan relasi, komunikasi, dan sebagainya, sangat perlu dibangun citra dan kesan positif bagi the others sehingga kemudian mereka akan meralat sendiri kesan negatif terhadap Islam yang terkonstruk oleh propaganda yang dikembangkan selama ini. Meski tampaknya sulit dan memerlukan proses panjang, tetapi kita harus berani memulai mengikis stigma sembari membangun citra bahwa Islam adalah rahmat bagi alam. []
Tags: ARTIKEL TEMAN, BERITA, LOGIKA



