Menggali Emas Hitam, Mengorbankan Nyawa Pribumi
*Mengunjungi Lobang Mbah Soero
Minggu pagi, 27 April 2008, Kota Sawahlunto Sumatera Barat, cerah. Sejak malam, keinginan untuk lebih dekat dengan Mbah Soera semakin tinggi. Lobang yang memang mesti dikunjungi oleh orang baru di Sawahlunto. Atau bagi siapa saja yang menyukai lobang.
Laporan-Roni Rahmatha—Sawahlunto

Bekas tambang batu bara yang menjadi danau di Sawahlunto.
Lobang Mbah Soero ini terletak di bawah jantung Kota Sawahlunto. Pintu masuknya berada di Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar. Sebelum memasuki Lobang Mbah Soero pengunjung akan menemukan di bagian depan pintu lobang adanya gedung Info Box yang memberikan informasi pariwisata seputar pertambangan di Kota Sawahlunto dan sejarah penggalian batubara di areal Lobang Mbah Soero, serta contoh alat-alat yang digunakan manusia rantai untuk menggali batu bara saat itu.
Lobang setinggi 2.5 meter dan lebar 2 meter ini digali dengan dua tujuan, pertama mengambil batu bara, dan kedua untuk sirkulasi udara 2 titik galian lainnya, dimana salah satunya untuk mengaliri listrik tenaga uap dari Mudik Air, sekitar 1500M dari lobang Lembah Segar.
Di halaman depannya juga ada 3 patung yang menggambarkan 2 orang pekerja paksa atau yang akrab disebut orang rantai yang sedang mendorong gerobak berisikan batu bara dan diawasi seorang tentara belanda.
Di pintu masuk lobang ini terpampang tulisan pada lampion box yang berisikan pernyataan sejarah pertama lobang ini digali pada tahun 1898 dan karena tingginya rembesan air maka pada tahun 1932 lobang ini ditutup. Tapi pada tahun 2007 kembali dibuka dengan alasan untuk dijadikan objek wisata.
Baru hitungan hari atau tanggal 23 April lalu, objek wisata ini diresmikan Menteri Pariwisata, Jero Wacik yang saat itu diwakili Dirjen Destinasi, Firmansyah Rahim, tapi tidak banyak yang tahu kenapa sampai objek wisata ini dinamakan lobang Mbah Soero, dan apa sejarah yang terkubur di dalam lobang yang panjangnya sekitar 3KM ini.
Tak banyak yang tahu kenapa sampai dinamakan Lobang Mbah Soero? Keingin tahuan saya pun menemukan titik terang, ketika salah seorang tukang ojek, bernama Ricky menyebutkan, yang tahu persis sejarahnya adalah Mang Joem nama lengkapnya Adjoem. Setelah saya datangi, ternyata Mang Joem adalah anak kandung dari Mbah Kanta, yang tiada lain adalah teman akrab dari Mbah Soero atau nama lengkapnya Soerono.
Mang Joem seorang pensiunan perusahaan batu bara, PT.Batang Ombilin. Umur Mang joem 74 tahun dan saat ini mengisi hari tuanya dengan membuka bengkel sepeda dan warung kecil-kecilan di salah satu sudut kota Sawahlunto.
Siang itu tidak ada pelanggan yang datang untuk servis sepeda, Mang Joem hanya duduk-duduk di samping warung, sambil mengotak-atik peralatan bengkelnya. Kehadiran saya disambut Mang Joem dengan senang hati.
Sebelum saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mengarah tentang sejarah Lobang Mbah Soero, Mang Joem menyatakan rasa senang, karena masih ada keinginan anak-anak muda menggali fakta dan data sejarah, yang selama ini menurut mang joem sedikit sekali yang ingin tahu.
Mang joem satu-satunya anak Mbah Kanta yang masih hidup, dengan tanpa henti menceritakan sejarah Lobang Mbah Soero dan Mang Joem mengawali ceritanya dari perjalanan kedatangan Mbah Kanta dan Mbah Soero ke Sawahlunto Sumatera Barat.
Menurut keterangan Mang Joem, kedatangan Mbah Kanta yang berasal dari Garut Jawa Barat, dan Mbah soerono yang berasal dari Magelang, berawal dari Kerakusan Belanda untuk mengeruk hasil bumi sawahlunto, dengan merekrut tenaga-tenaga ahli sebagai buruh paksa dari beberapa daerah di Indonesia dengan beragam kriteria. Selain diambil dari penduduk pribumi, Belandapun merekrut tenaga keturunan tionghua saat itu.
“Ada penerimaan kontrak untuk sawahlunto pada tahun 1887, dan yang diminta oleh Belanda saat itu, ada beragam criteria, diantaranya, tukang batu, yang tahu listrik, petugas medis, serta sinden dan ronggeng,” suara Mang Joem cukup berapi-api menceritakan secara detail kisah orang tuanya dan mandor Soerono.
Mang Joem melanjutkan percakapannya setelah sebelumnya memperlihatkan beberapa lembar catatan sejarah yang dia miliki.
“Hasil rekrutan Belanda ini secara bersama diberangkatkan dengan Mbah Kanta dan Mbah Soero saat itu sebanyak 21 orang, termasuk 2 orang sinder. Sinder nama jabatan masa belanda setingkat kepala bagian), yakni Sinder Ngarisan dari Ngawi dan Sinder Murian dari Tuban, mereka diberangkatkan melalui pelabuhan Tanjung Periuk menuju pelabuhan Emma Haven sekarang disebut Teluk Bayur.”
Saya memperhatikan dengan cermat setiap ucapan Mang Joem.
“Perjalananpun dilakukan dengan berjalan kaki selama 11 hari menjelajahi hutan belantara, melewati daerah kayu tanam Kabupaten Padang Pariaman, terus ke Kabupaten Tanah datar dan tembus ke Kota Sawahlunto,” demikian urai Mang Joem.
Sesampai di Kota Sawahlunto pada tahun 1918, mereka langsung didaftarkan sebagai pekerja, dan pekerjaan utama adalah menggali 4 titik penambangan batu bara bawah tanah yang telah diberi tanda oleh Belanda.
Titik pertama di daerah Lobang Tembok, kedua di Waringin, ketiga Sungai Duren dan keempat di Tanah Hini. Lobang ini memerlukan sirkulasi udara, maka Belanda membuka galian pertama di daerah Tanah Lapang dan pengerjaannya dipercayakan pada Mbah Soero dan Mbah Kanta selaku mandor serta 2 orang sinder.
Berdasarkan kesepakatan mereka, maka dilakukanlah penggalian pertama pada hari rabu bulan Soero pada Tahun 1871, batu baranya diambil dan bekas galian berupa lobang ini digunakan untuk sirkulasi udara, dan itulah sebabnya kenapa alasannya dinamai lobang Mbah Soero, namun dulunya masyarakat lebih mengenal lobang ini dengan sebutan Lobang Lembah Sugar, karena dialiri air dari Bukit Sugar.
Tun Huseno, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto yang saya temui setelah itu, membenarkan sejarah yang dipaparkan Mang Joem, meski ada perbedaan dalam kepastian tahun pertama di gali.
Namun menurutnya pemberian nama Lobang Lembah Soero, selain didukung sejarah pelaku penggalian, pemilihan nama ini juga hasil diskusi kelompok antara pemerintah dan tokoh masyarakat, agar pemberian nama ini memberikan daya tarik pariwisata.
Alasan di jadikannya Lobang Mbah Soero ini menjadi objek wisata oleh pemerintah kota, menurut Tun Huseno, “karena lobang mbah soero merupakan rangkaian sejarah pertambangan di kota sawahlunto,”
Setelah rangkaian sebelumnya diresmikan sebagai objek wisata tambang, diantaranya stasiun kerta api batu bara, gudang ransum yang menjadi tempat makan orang rantai (pekerja paksa tambang). Dan yang terpenting objek wisata ini memberikan informasi dalam bentuk wisata pendidikan, terutama pendidikan tentang sejarah pertambangan pertama di Indonesia.
Ternyata keseriusan pemerintah Kota Sawahlunto dalam mempertahankan semua bentuk artiktektur dan infrastruktur peninggalan Belanda telah diawali sejak tahun 2004, seperti disebutkan Rika Ceris kepada saya, Rika ceris sendiri adalah Ketua Tim Pemeliharaan Benda-benda Bersejarah kota ini.
“Tahun 2004 kita bekerjasama dengan orang yang tertarik dengan revitalisasi kota tua, dan kita pelajari seluruh kota ini. Dan hasilnya lebih cepat merevitalisasi kota, karena jika tidak nanti akan runtuh dengan sendirinya.”
Ketika pertama kali dibuka untuk direnovasi pada tahun 2007, sebelum dijadikan objek wisata, ternyata di dalam Lobang Mbah Soera ditemukan tulang-belulang yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.
“Kami menemukan tulang kaki, bahkan diantara kami juga didatangi mimpi, yang intinya meminta agar tulang tersebut dikuburkan, dan berdasarkan kebijakan pemerintah tulang-belulang itupun dikubur sebagaimana layaknya di kuburan,” demikian diutarakan Wilson, mandor pengerjaan renovasi.
Mang Joem menyebutkan, penemuan tulang belulang itu tidak terlepas dari sejarah kepedihan penyiksaan para orang hukuman atau yang akrab disebut saat itu adalah orang rantai.
Mereka adalah penduduk pribumi yang merupakan orang hukuman Belanda yang didatangkan dari beberapa daerah di wilayah Indonesia, di antaranya dari Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, bahkan diantaranya ada keturunan cina.
Mang Joem mengatakan, salah satu lorong sebelah kiri mengarah ke sungai adalah tempat dimana mayat-mayat orang rantai dibuang dulunya, setelah mereka dibunuh lalu dimasukkan ke dalam gerobak dan ditimbun dengan batu bara, selepas itu di buang ke tempat saringan pencucian batu bara, yang sekarang sengaja ditutup.”
Berangkat dari perjalanan panjang sejarah pertambangan inilah menurut Walikota sawahlunto, Ir.H.Amran Nur, kembali Lobang Mbah Soero ini dibuka sebagai objek wisata tambang, yang juga sejalan dengan visi Kota Sawahlunto, menjadi kota wisata tambang yang berbudaya tahun 2020.
Objek wisata mengandung history bagi kota tua ini, selain menceritakan bagaimana penderitaan rakyat pada masa penjajahan Belanda, objek wisata inipun menyimpan cerita dan saksi bisu pertambangan batu bara pertama di Indonesia.
*
Sawahlunto tempo doeloe, adalah sebuah daerah terpencil yang luasnya hanya 779ha, dan daerah ini kebanyakan areal pesawahan yang dialiri Batang Lunto sehingga inilah penyebab kenapa sampai dinamakan Sawahlunto.
Namun siapa sangka kota kecil ini menjadi kota di Sumatera Barat yang memberikan kontribusi terbesar pada masa penjajahan Belanda. Berawal dari temuan lapisan batubara (emas hitam) dengan kalori terbagus di Asia saat itu, yakni kalori 7000, dan ini ditemukan oleh seorang insinyur Belanda William Hendri de Greve, pada tahun 1868, yang diprediksi saat itu kandungannya mencapai 205juta Ton.
Kerakusan Belanda mengeruk hasil bumi inipun di realisasikan. dengan menggali lobang pertama di Lembah Sugar kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar.
Jangan lupa, jadwal travelling Sumbar untuk ke tempat ini. Ditanggung memberikan warna berbeda perjalanan wisata. Di sini, kita tahu cara belanda menggali emas hitam dengan mengorbankan nyawa pribumi. []




