Posted by: abdullah khusairi | Mei 15, 2008

MUTIARA HIKMAH

Hidup Aman dengan Pengalaman

COVER-HIKMAHJudul : Mutiara Hikmah
Penulis : Syaiful Hadi El-Sutha
Penerbit : Erlangga
Cetak : Januari 2008
Tebal : 136 hal
Resensi : Abdullah Khusairi

Sebuah kebenaran, walaupun itu kadang terasa pahit, kita harus berani untuk mengatakannya. Jangan sampai karena takut atau karena pertimbangan mendapatkan keuntungan tertentu, maka kita menyembunyikan kebenaran itu. (hal.133)

Kebenaran memang selalu pahit pada waktunya. Jika ia manis maka amatlah banyak orang menyukainya. Padahal, kebenaran nurani memang tak bisa didustai oleh siapa saja. Namun, membuat sebuah kebenaran palsu di atas logika-logika amatlah mudah. Sayangnya, sesuatu yang logis sudah dianggap benar. Padahal menurut Emha, tidak semua yang logis itu benar.

Pada buku bertajuk Mutiara Hikmah, 20 pelajaran hidup mulia berdasarkan kisah nyata ini setidaknya ingin melihatkan kebenaran-kebenaran yang tidak logis menurut hukum akal. Karena hikmah memang selalu berada di balik hukum akal yang dangkal tetapi diyakini awam.

Sebanyak 20 kisah menarik tersebut adalah kearifan-kearifan yang ada di tengah kehidupan kita. Salah satu yang dapat diceritakan adalah, seorang pelacur tobat karena justru datanya laki-laki yang tak kuat menghadap nafsu yang dihidangkan oleh pelacur. Sang pelacur tunduk karenanya. Tetapi itu susah juga bila dilihat dari pelacur yang ada di negeri ini. Saban waktu selalu ditangkap oleh aparat, tetapi dilepas lagi. Ditangkap dilepas. Ditangkap dilepas.

Kemudian, yang paling terbiasa kita dengar adalah, orang yang menggali lobang akan masuk lobang. Siapa yang berbuat jahat, suatu kali kejahatan itu akan dialaminya. Ini lumrah sekali. Masuk akal. Tapi masih banyak juga yang meragukannya, maka tak segan-segan berbuat jahat kepada sesama. Menggunting dalam lipatan. Ingin sukses tapi mendepak teman. Ini sering terjadi. Apalagi kalau sudah berurusan dengan masa depan dan perut. Rela membutuh antara satu dengan yang lain. Kenapa ini terjadi? Tiada lain adalah pendewasaan terhadap pemikiran tidak ada. Sehingga berpikir sempit dan bertindak keliru.

Buku ini mencoba untuk memberi hikmah. Hikmah yang membuka cakrawala berpikir untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Tidak ceroboh dan sombong berjalan di muka bumi. Tidak gelap mata dan buta terhadap sesuatu yang sedang berlaku.

Membaca buku ini, kita diberikan mutiara yang berharga untuk mengarungi belantara. Sebagai penerang dengan berkaca pada pengalaman orang lain. Orang-orang sebelum kita yang sudah mengalaminya lebih dahulu. []

Leave a response

Your response:

Kategori