TERIAKAN SI PENCARI ILMU
Oleh:
Fuad Mahbu Siraj, MA
Kandidat Doktor di ITC Malaysia/Anggota Magistra Padang
Salah satu faktor yang mampu membantu manusia untuk bertahan hidup adalah pendidikan. Pendidikan membantu manusia untuk menjadi orang-orang yang berilmu pengetahuan sehingga nantinya bisa di terima oleh peradaban. Bagaimana pun bentuk dan metode ilmu pengetahuan yang di cari pada akhirnya nanti adalah sebagai sebuah modal untuk manusia “mencari makan”.
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita lontarkan, sejauh mana ilmu yang kita cari mampu menjamin kita untuk bisa bertahan hidup?. Manusia yang cukup beruntung yang bisa menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun kemudian berbondong-bondong mendaftar ke perguruan tinggi dengan harapan menjadi seorang sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang besar, bisa beli mobil, rumah dan masa depan yang cerah, Apakah semua sesederhana itu?
Satu realita yang kita lihat sekarang, pertama, para calon mahasiswa bertempur habis-habisan untuk bisa masuk ke universitas-universitas negeri yang ternama dengan harapan jika lulus nantinya bisa mendapatkan kerja yang bagus, karena hipnotisasi pemikiran sebelumnya menyebutkan bahwa instansi-instansi bakal melirik para sarjana-sarjana tamatan universitas-universitas tersebut.
Setelah sampai di perguruan tinggi negeri tersebut mereka akan berhadapan langsung dengan uang kuliah yang cukup mahal, apalagi universitas-universitas negeri unggulan dan ternama yang sekarang katanya sudah otonomi sehingga harus menaikkan uang kuliah untuk bisa terus “berjalan” menjadikan mahasiswa berpikir panjang tentang masa depannya tadi. Jika mereka tidak lulus dalam seleksi ujian masuk perguruan tinggi, mereka akan pergi ke universitas-universitas swasta. Kembali akibat dari hipnotisasi pemikiran sebelumnya, asal universitas yang terkenal pasti akan mudah mendapatkan pekerjaan sehingga mereka tidak berpikir panjang lagi untuk masuk ke universitas-universitas “orang kaya” tanpa berpikir tentang kesanggupan orang tuanya, yang penting bisa kuliah di universitas ternama.
Realita yang kedua, setelah mereka menjadi sarjana, tantangan selanjutnya yang akan mereka hadapi adalah persaingan dunia kerja. Pada saat inilah mereka akan mengerti bahwa tidak semua mahasiswa –mahasiswa dari universitas ternama serta mahasiswa jurusan favorit mampu mendapatkan pekerjaan secara langsung. Persaingan tetap dilihat dari kualitas walaupun tidak bisa kita pungkiri “permainan” akan tetap ada sampai dunia ini kiamat. Pertanyaan lain yang akan muncul adalah, saya berasal dari universitas yang bagus dengan nilai ynag bagus tetapi kenapa saya tidak mendapatkan pekerjaan?. Memangnya pihak perguruan tinggi bisa menjamin kalau kita setelah tamat dan punya nilai bagus bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Satu pekerjaan yang bisa di jamin oleh perguruan tinggi ketika kita lulus dan menjadi sarjana ialah sebagai pengangguran.
Mungkin ini adalah masalah yang tidak asing lagi untuk kita bersama tetapi hal ini tetap harus dijadikan sebagai bahan pemikiran bagi kita, perguruan tinggi dan pemerintah. Sebentar lagi kita akan melihat eksodus tahunan para pelajar dari berbagai tempat untuk mempersiapkan diri berebut kursi di perguruan tinggi negeri dan selepas itu kita juga akan lihat kumpulan para pengangguran yang mencari kerja. Setelah lulus dan gagal bersaing mereka hanya mampu berteriak, apa juga yang akan mereka katakan kepada orang tua mereka di kampung yang membanting tulang untuk bisa membiayai kuliah anaknya yang mahal. Hal ini adalah realita yang cukup kompleks dan pertanyaannya sampai di mana pemerintah mampu mendengar teriakan mereka ini dan apa yang akan dilakukan pemerintah dan pihak perguruan tinggi untuk menyikapi ini.
Teriakan si pencari ilmu kedua terdengar di luar negeri. sang mahasiswa yang belajar di luar negeri dengan biaya sendiri tanpa bantuan beasiswa dari pemerintah, karena beasiswa katanya hanya untuk mahasiswa yang sudah bekerja di instansi atau sebagai pegawai negeri atau mungkin untuk para dosen yang melanjutkan studi supaya bisa naik jabatan. Mereka tidak menangisi tentang beasiswa tersebut, tetapi mereka menangis dengan keadaan nilai tukar rupiah yang terus merosot yang pada akhirnya berimbas kepada studi mereka. Mereka kemudian belajar sambil mencari pekerjaan sampingan untuk bisa bertahan hidup di negeri orang walaupun pada akhirnya yang terjadi malah bekerja yang diutamakan karena untuk makan saja susah bagaimana untuk bisa berpikir membayar uang kuliah karena nilai tukar rupiah yang terus menurun.
Sampai kapan mahasiswa-mahasiswa harus berteriak. Kalau memang tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka atau tidak bisa memberikan bantuan beasiswa janganlah manambah beban mereka dengan segala persoalan yang menyebabkan merosotnya nilai rupiah. Apakah permintaan kami ini terlalu berat untuk pemerintah? Atau jawaban yang akan kita dapat bahwa orang yang ikhlas mencari ilmu akan ditunjuki jalan oleh Tuhan dan akan mendapatkan pahala nantinya. Kalau memang begitu mudah-mudahan Tuhan menurunkan bantuan dana supaya mereka bisa tetap kuliah. Amin.[]




